E-FALS alat bantu komunikasi untuk penderita ALS
E-FALS alat bantu komunikasi untuk penderita ALS

Siapa yang tak pernah mendengar nama Stephen Hawking. Ahli fisika dan kosmologi ini tutup usia pada 14 Maret 2018 lalu. Semua yang mengenalnya tahu bahwa fisikawan ini mengidap penyakit motor neuron (MND) atau amyotrofik lateral sklerosis (ALS) selama lebih dari 50 tahun.

Dilansir dari laman Seeker, ALS merupakan sebuah penyakit neurodegeneratif progresif yang menyerang sel-sel saraf di otak dan tulang belakang. Penyakit ini juga melumpuhkan neuron-neuron motorik yang memerintahkan otot-otot di tubuh untuk bekerja.

Seiring waktu, otak akan kehilangan kemampuannya untuk mengontrol otot. Otot pun mulai mengalami proses atrofi dan menyusut. ALS juga pada umumnya membunuh pengidapnya lewat dua cara, yakni lewat melumpuhkan otot-otot pernapasan sehingga pasien tidak bisa bernapas, atau melumpuhkan otot-otot menelan sehingga pasien menjadi dehidrasi dan kekurangan nutrisi.

Penderita ALS yang kehilangan kendali pada otot dan mengalami kelumpuhan membuat otot penderita tidak mampu untuk menggerakkan bibir dalam melakukan komunikasi secara langsung.

Mengingat komunikasi adalah kebutuhan setiap orang termasuk penderita ALS, maka tiga mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) yaitu Axel Elcana Duncan (PS. Teknik Komputer), Muhajir Ikhsanushabri (PS. Teknik Komputer) dan Rachmalia Dewi (PS. Teknik Informatika) membuat teknologi bernama Electrooculography for Amyotrophic Lateral Sclerosis (E-FALS). E-FALS dibuat sebagai alat bantu komunikasi bagi penderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

E-FALS dibuat menyerupai kacamata dan memanfaatkan sistem Electrooculography (EOG) agar dapat membaca pergerakan bola mata dan mengenali karakter yang ditulis dari pergerakan tersebut. Hasil dari sistem ini dapat berupa tulisan yang ingin disampaikan oleh penderita ALS untuk kemudian dikirimkan ke aplikasi E-FALS di android pengguna lain.

Selain itu, E-FALS juga memiliki dua fitur unggulan lainnya. Pertama fitur tambahan untuk memudahkan penderita ALS dalam mengirimkan pesan darurat ke rumah sakit tertentu dalam jaringan E-FALS. Kedua adalah fitur untuk mengetahui perkembangan dari otot mata penderita ALS secara berkala melalui grafik yang menunjukkan peningkatan atau penurunan kerja otot pada mata penderita ALS.

“Sebetulnya alat serupa sudah ada tapi harganya sangat mahal. Dengan E-FALS ini bisa lebih terjangkau harganya sehingga harapannya bisa dimanfaatkan oleh penderita ALS secara lebih meluas,” jelas Axel.

E-FALS telah membawa Axel beserta timnya meraih juara 3 dalam kompetisi Technology Imagine (Technogine) 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika, Universitas Telkom pada akhir Februari 2019 lalu. Tidak berpuas diri di situ, Axel kemudian mengembangkan fungsi E-FALS tidak hanya untuk berkomunikasi tapi juga untuk menggerakkan kursi roda.

Pengembangan fungsi ini kemudian menjadikan E-FALS karya terbaik ketiga dalam kompetisi Technocorner 2019, Sabtu (9-10 Maret).

Dalam pengembangannya Axel menggandeng dua rekan yang berbeda yaitu Titus Christian (Teknik Informatika/2016) dan Kezia Amelia Putri (Teknik Komputer/2017) dengan dosen pembimbing Dahnial Syauqy, S.T., M.T., M.Sc.

Dalam kompetisi Technocorner 2019, karena E-FALS telah memiliki tambahan fungsi maka dipertimbangkan perubahan nama alat menjadi Smart Googles for ALS Patient atau disingkat SGAP. Axel mengaku akan terus mengembangkan karyanya ini hingga kemudian benar-benar dapat digunakan oleh para penderita ALS.