Wali Kota Malang Sutiaji saat sidak MOS di SDN Kauman 1. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Wali Kota Malang Sutiaji saat sidak MOS di SDN Kauman 1. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI ingin menjadikan Kota Malang sebagai pilot project untuk pendidikan karakter. Untuk itu, pendidikan karakter di Kota Malang terus digalakkan.

Penanaman pendidikan karakter ini tidak hanya dilakukan pada jenjang SD, melainkan juga pada jenjang SMP. Hal ini dinyatakan oleh Wali Kota Malang Sutiaji saat melakukan sidak MOS di SMPN 5 Malang, Senin (15 Juli 2019).

"Ketika pendidikan karakter sudah ditanam di tingkat dasar, harapan kami di kelas 7 juga demikian. Tentunya pendekatannya tidak sama karena bobotnya yang diberikan tidak sama," ujarnya.

Diibaratkan seperti tanaman, anak-anak kelas 1 itu layaknya tanaman yang masih baru ditanam. Sehingga kebutuhan akan air, pupuk, dan sinar juga tidak sama dengan anak kelas 7.

"Tapi goalnya adalah sama, bagaimana anak ini mempunyai karakter tadi dan menjadi tumbuhan yang sesungguhnya," imbuhnya.

Salah satu upaya penanaman pendidikan karakter ini, Pemerintah kota Malang akan menggodok Perwal terkait pembatasan siswa dengan gadget dan TV.

"Insya Allah dalam waktu dekat akan kami godok terkait dengan tidak ketergantungan anak-anak dengan gadget dan TV," ungkapnya.

Dikatakannya, harus ada kesadaran bersama antara orang tua dan siswa mengenai hal ini. Sikap yang tepat sebaiknya tidak terlalu ketergantungan sekaligus tidak menafikan kecanggihan teknologi.

Anak sendiri sesungguhnya sudah mempunyai karakter sejak dini, tinggal bagaimana orang tua dan guru menemukan karakter anak yang sesungguhnya. Tujuannya agar anak menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang lain.

"Sehingga tidak terjadi eksapisme. Dia tidak pernah lari dari sebuah kenyataan. Tapi dia akan bangga dengan dirinya sendiri. Tidak ada rasa minder. Itulah sesungguhnya yang akan kita kembangkan. Paradigma pendidikan di Indonesia tahun ini sudah mulai merangkak ke sana," bebernya.

Ditegaskan sekali lagi oleh Sutiaji, anak mempunyai kodratnya sendiri. Yang harus dikuatkan adalah anak menjadi dirinya sendiri, bukan menjadi orang lain.

"Sementara dari kaca mata banyak tokoh pendidikan saat ini, pendidikan dan kurikulum kita saat ini kan anak masih tidak menjadi dirinya sendiri, adanya campur tangan guru, campur tangan orang tua," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load