Polisi saat melakukan razia di tempat nongkrong dan warga berkerumun / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES
Polisi saat melakukan razia di tempat nongkrong dan warga berkerumun / Foto : Istimewa / Tulungagung TIMES

Polres Tulungagung kembali melakukan sejumlah kegiatan sosialisasi langsung ke Masyarakat, Kamis (26/03) malam ini. Kegiatan kali ini akan dilakukan lebih tegas dari sebelumnya yang hanya membubarkan kerumunan masa baik di tempat umum, warung kopi, warung Hiburan atau warga yang tetap menyelenggarakan hajatan.

"Betul, kita akan lakukan kembali sosialisasi dan juga penindakan jika ada yang masih membandel," kata Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia, saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Penindakan yang dimaksud menurutnya, jika ada warga yang masih berkumpul atau pelaku usaha mengizinkan untuk nongkrong maka petugas akan membawa kedua belah pihak yakni yang berkumpul dan pemilik usaha ke Polres Tulungagung.

"Kita minta agar mereka membuat surat pernyataan tidak mengulangi kegiatan yang punya potensi penularan di tengah upaya pemerintah memutus penularan virus corona ini," tegas Kapolres.

Sehari sebelumnya, Tim gabungan TNI, Polisi dan Satpol PP Kabupaten Tulungagung melakukan razia bersama ke tempat yang biasanya dipakai tempat nongkrong.

Tempat nongkrong yang disasar adalah warung kopi, kafe dan tempat makan.

Setiap tempat yang ada kerumunan, akan langsung dibubarkan dan pembeli diperintahkan untuk membungkus makanan atau minuman yang dipesanya, begitu juga dengan pemilik tempat usaha juga diberikan arahan menolak pembeli yang makan ditempat.

Polisi juga memasang himbauan dan maklumat Kapolri yang melarang adanya kerumuan selama merebaknya covid-19 di setiap tempat yang dikunjungi.

“Selain “take away”, pelanggan yang datang juga harus diatur jaraknya agar tidak terjadi kontak,” terang Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia.

Dalam kesempatan kali ini, polisi juga juga melakukan penyemprotan disinfektan pada bangku dan meja yang biasa dipakai konsumen.

Razia terhadap tempat nongkrong ini sudah dilakukan oleh Polres Tulungagung selama 3 hari terakhir.

Selama razia dilakukan sudah banyak warung kopi dan tempat makan tutup, namun dirinya mengakui kesulitan untuk membatasi aktifitas atau kerumunan di pusat perbelanjaan. Lantaran pusat perbelanjaan menjual bahan kebutuhan pokok yang dibuthkan masyarakat.

“Pusat perbelanjaan bisa menyediakan hand sanitizer, tempat cuci tangan, atau bahkan bilik sterilisasi,” ujar EG Pandia.

Selain tempat berkumpul, pihaknya juga melarang masyarakat untuk melakukan hajatan selama wabah corona masih ada. Namun lebih mengkhawatirkan adalah para pekerja migran yang akan mudik menjelang idul fitri, Mei mendatang.

Diperkirakan akan ada 12.000 hingga 14.000 pekerja migran yang pulang kampung ke Tulungagung. Seperti gelombang kepulangan TKI dari Malaysia, setelah negara itu melakukan lockdown.

Para pekerja migran tidak bisa bekerja selama masa lockdown, sehingga memilih pulang ke Indonesia. Karena itu Kapolres memerintahkan semua Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) untuk memantau pekerja migran yang mudik ke desa-desa.

“Sudah ada grup WA (Whatsapp), untuk update pantauan TKI di desa tempatnya masing-masing,” pungkas EG Pandia.